Cerpen : Lembar Daun

            

Aku membuka mata sesaat setelah melakukan ritual permohonan keinginan. Bentangan hutan jati di depan mataku benar benar lenyap. Dalam sekejap mata bentangan hijau memuakkan berubah menjadi gemerlap metropolitan. Tak ada jati, tak ada  binatang liar, tak ada bebatuan tak berarti. Sejauh mata memandang hanya ada gedung menjulang berhambur kaca. Berkilau indah luar biasa. Bahkan kaos lusuh dan celana kolorku berubah menjadi setelan jas yang rapi lengkap dengan sepatu. Kucubit pipiku perlahan. Sakit.
            “ hahahaha…. Aku benar benar berada dalam dunia impianku!” teriakku liar.
Mataku tak henti hentinya mengembara menelusuri pemandangan yang hanya kemarin bisa kulihat di televisi ini. Mobil mobil mewah, kaca yang menyilaukan. Sungguh seperti dalam mimpiku. Aku merasakan hidup yang sesungguhnya. Seorang yang benar benar menjadi orang. Bukan seorang remaja dekil pencari kayu jati. Ah, pekerjaan yang sangat kubenci.
Aku masih menikmati suasana baru disini. Kenapa tidak dari dulu saja aku melakukan ritual itu. Pasti tak akan susah susah aku mencari batang batang kayu kering itu. Tetapi kini aku berada dalam rumah kaca mewah lengkap dengan jejeran mobil seperti yang sering dipakai bintang Hollywood. Oh lihat, apa itu? semuanya serba digital. Aku hampir tak mempercayai ini. Dunia kini ada dalam genggamanku. Lamunanku kian menjadi.
“ tuan muda, adakah yang bisa saya bantu ?”
Suara kecil bergetar memecah ketenanganku. Suara siapa? Tak ada tanda tanda ada seorangpun di rumah ini. Siapa tuan muda ? apakah itu aku?. Aku mengedarkan pandangan keseluruh penjuru rumah.
“ tuan muda, adakah yang bisa saya bantu?”. Suara itu datang lagi, aku hampir saja menjerit ketakutan saat aku melihat suatu mesin aneh menyerupai manusia kerdil tiba tiba muncul. Ku pandangi lekat lekat. Benda apa ini?. Mataku terbelalak kaget.
“ siapa kamu?” tanyaku ragu.
“saya robot yang akan selalu melayani tuan” jawabnya.
Ini pasti suatu mesin yang diciptakan manusia. Tapi apakah bisa ?. Otakku berfikir keras, bagaimana cara kerja benda ini. Sungguh semua teknologi ini sangat asing buatku.
“ jadi apa yang bisa kamu lakukan untukku ?”
“ hamba akan melakukan semua yang anda inginkan”
“ benarkah?”
“ tentu”
Aku tersenyum lebar melihat kenyataan yang luar biasa ini. Kehidupanku yang baru telah dimulai, aku menguasai semuanya. “bawa aku berkeliling kota ini dengan mobil!” pintaku.
Sesaat setelah mulutku menutup. Berubahlah robot kerdil tadi menjadi sebuah mobil sport yang keren. Seperti dalam film fantasi saja. Aku terbelalak melihatnya. Keajaiban macam apa ini ?. Bahkan jika aku bersekolah hingga aku belajar hingga lulus beberapa “S” pun aku tak akan bisa membuat yang seperti ini.
Mobil ini menjalankan tugasnya dengan baik, tak perlu aku susah susah menyetir. Aku hanya duduk bersandar santai dan mobil telah berjalan sendiri. Aku tak henti hentinya tertawa puas melihat semua ini.
Dalam perjalananku aku bertemu dengan banyak hal yang luar biasa sekali. Semua yang indah dan menakjubkan terbaris rapi.  Tentu diantara yang indah itu tak ada kayu jati dan hutan mengerikan seperti tempatku dulu. Gedung gedung pencakar langit menjulang tinggi. Lalu lalang manusia beratribut serba keren. Seperti astronot, memang agak aneh. Sesaat melihat pemandangan ini aku teringat emak dan  bapak dirumah.
            “ hei robot, bolehkah aku  mengajak emak dan bapakku tinggak disini?”
            “untuk apa tuan?” suara robot itu keluar berasal dari speaker didepanku.
“tentu saja untuk tinggal bersamaku dirumah tadi, hidupku akan lebih bahagia lagi karenanya”
Aku mendengar tawa kecil dari si robot yang menjelma menjadi mobil ini. Tawa mengejek, aku geram sekali mendengarnya. “ kenapa kau tertawa?” bentakku.
“ tuan ini aneh sekali, sejak kapan seseorang membutuhkan hidup dengan seseorang lainnya?”
“ maksudmu ? apakah itu salah ? ”
“ bukan salah, tapi itu aneh, manusia disini tak membutuhkan orang lain, sekalipun itu orang tua, sejak lahir bayi dibiarkan hidup sendiri” jelasnya. Aku sedikit heran dengan jawaban si robot. Bagaimana mungkin seorang bayi dibiarkan hidup sendiri. Ah, satu lagi keanehan.
Daripada mendengarkan si robot berceloteh, aku memilih membuang muka keluar jendela mobil. Diluar sana tampak panas sekali. Aku menjulurkan tanganku keluar jendela. Benar saja, sedetik terkena sinar matahari kulitku mulai melepuh. Aku mulai mengerti mengapa orang orang diluar memakai baju semacam astronot.
“ robot, kota ini panas sekali sangat berbeda jauh dengan tempatku dulu?” tanyaku kepada si robot.
“ kota ini memang yang paling panas tuan, suhu disini hampir 80o celcius” jawab si robot dengan suara tenang. Aku berfikir sejenak, bukankah 80ocelcius itu panas sekali. Fenomena kota keren ini membuatku semakin penasaran dan bertanya tanya.
“ kenapa bisa seperti itu robot ?” tanyaku lagi. Namun sebelum si robot selesai menjawab, aku melihat kerumunan orang orang yang tampak seperti pertengkaran. Apa itu?.
“ turunkan aku disini !”
Mobil berhenti mendadak. Aku segera memakai baju astronot yang terpakai dengan sendirinya ketika aku keluar mobil. Kupandangi keadaan sekitar. Hampir semua yang kulihat berwarna kuning menyala. Matahari tampak semakin mendekat. Panas. Sangat panas. Aku menyadari sesuatu yang mulai aneh pada tempat ini.
Keringatku mulai bercucuran. Tubuhku terasa setengah terbakar. Pemandangan disini tak lagi indah. Ku hirup nafas dalam dalam. Udara. Tapi bukan udara. Ini hampir serupa asap. Membuatku batuk kecil.
Sesaat menerawang, aku mendapati beberapa orang tengah bekumpul. Aku masuk menyela diantara kerumunan orang orang tersebut. Aku mendengar dua orang memperdebatkan sesuatu.
“ aku sudah membayarnya duapuluh trilyun!” teriak salah seorang diantaranya. Teriakan orang itu membuatku tercengang.
“ dua puluh trilyun !!!” ulangku dalam hati. mulutku terbuka menganga mendengar kalimat tersebut. Apa itu uang ? tidak mungkin. Sejauh ini aku hanya pernah memegang uang seratus ribu saja. Otakku menerawang memikirkan jumlah angka nol setelah angka dua pada dua puluh trilyun. Belum sempat aku menemukan jawabannya aku mendengar seseorang lagi berkata.
“ tapi aku berani membayarnya lima puluh trilyun !!!”
Aku semakin tercengang mendengarnya. Semua kata kata itu membuatku hampir gila. Aku menerka nerka apa yang diperebutkan orang orang itu. Pastilah benda itu sangat berharga. Teknologi super canggih seperti apa lagi yang sedang mereka perebutkan. Aku mencoba bertanya pada seseorang yang berada disampingku.
“ maaf tuan, sebenarnya apa yang mereka perebutkan?”
Orang itu memandangku dengan tatapan yang aneh. “sesuatu yang indah sekali, menyejukkan, membawa kedamaian, yang terbaik ciptaan dewa” jawabnya mantap.
“ apa itu?” tanyaku semakin penasaran. Namun tatapan mata orang itu tak kalah penasaran setelah mendengar pertanyaanku.
“ apa yang kau bicarakan anak muda? benarkah kau tidak mengetahui itu?” orang itu berbalik bertanya kepadaku.ku menjelaskan
“ saya bukan penduduk kota ini tuan, jadi saya tidak mengetahuainya” jawabku
“ benda itu dapat menyelamatkan siapa saja yang memilikinya, benda itu adalah suatu mukjizat yanga sangat langka ” jelasnya.
Benda apapun itu, pastilah sangat didinginkan semua orang di kota ini. Aku kian penasaran karenanya. Sebegitu agungkah benda ini ?. Rasa penasaran mendorongku melangkah lebih dekat. Aku berjalan berdesakan dengan susah payah. Tak peduli terik matahari yang kian menyengat.
Kini tampak dua orang yang sedang berebut. Satu berbadan tambun, satu tampak lebih tinggi. Sedang diantara mereka ada sesuatu benda yang dikemas apik dengan box berwarna emas. Ku pandangi lekat lekat benda ini. aku melonjak menyadari sesuatu pada benda tersebut. Benarkah ?. Benda itu hanya sebuah bibit jati kecil dengan satu daun. Aku mengucek mataku, barangkali ada sesuatu yang membuat penglihatanku tak normal lagi.
“ bukankah itu hanyalah sebuah pohon jati kecil ? sama sekali tak berarti ?” ucapku keras.
“ apa maksudmu anak muda?” tanya seseorang diantara mereka.
“ ditempatku benda seperti ini sangat mudah didapat, ratusan, ribuan, bahkan jutaan pohon seperti ini bisa kau dapat” jawabku.
Semua orang sontak tertawa terbahak. Tawa di tengah terik matahari yang mengerikan. Aku menampakkan wajah bingung. Mereka manusia yang aneh, gumamku.
“ apakah kau sadar apa yang baru kau katakana anak muda?” suara seorang yang bertubuh tinggi.
“ a…aku sadar dan sangat sadar ” jawabku tersendat. Udara ditempat ini membuatku sulit bernafas.
“ anak muda ini benar benar gila, coba lihat dengan seksama. Benarkah apa yang kau katakan ?” tambah seseorang bertubuh tambun.
Kulihat daun jati itu lekat lekat. Memang tampak berbeda. Aku merasakan kesejukan luar biasa dari pancaran hijau daunnya. Aku baru menyadari betapa indahnya warna hijau. Enggan sekali aku memalingkan pandanganku dari pohon kecil ini. Untuk pertama kalinya aku menyadari betapa indahnya pohon jati.
“ sudahlah anak muda, jangan membual ditempat ini, pergilah !” pinta seseorang bertubuh kurus dengan keras.
Aku segera berlari menjauh dari kerumunan. Tenggorokanku terasa semakin kering. Aku berjalan gontai menuju mobil terparkir. Ku raih dengan cepat botol minuman yang  berada dalam mobil. kuteguk dengan cepat.
“ air apa ini ?” teriakku.
“ ini air buatan tuan, persediaan air bersih ditempat ini sudah lama habis, sungai sudah mulai mengering”
“ bawa aku kehutan!”
“ hutan sudah tidak ada tuan”
Jawaban si robot membuatku panik. Dapatkah aku hidup lebih lama dengan keadaan seperti ini?. Dengan terik yang kian membakar serta udara yang menyesakkan ini. Aku harus segera pergi. Aku ingin kembali ke tempatku yang dulu. Aku merindukan hamparan hutan jati. Aku merindukan hijau rindang pepohonan. Tapi dimana aku sekarang.
“ tempat apa ini robot? dimana aku bisa mendapatkan hijau dedaunan ?”
“ kota ini bernama sumberjati tuan, dan tak akan tuan dapatkan selembar daunpun jika tuan tak mempunyai ber trilyun trilyun dollar”
Sumberjati ? bukankah itu nama desa tempatku tinggal. Mungkinkah?.
“ tahun berapa ini ?”
“ ini tahun dua ribu dua ratus lima”
Jawaban si robot seakan menampar wajahku. Tempat menerikan ini. Inikah masa depan?


-PM-
September, 2013

No comments