Cerpen : Dendam

Gadis itu, datang lagi. Tak ditinggalkannya setiap haripun. Selalu sempat. Tawanya mencekam, parasnya buram, hatinya kelam. Menyedihkan. Terombang ambing dalam pekat dunia. Terlalu muda baginya. Ya, dia muda, tapi tak berusia. Benar, tak berusia.
Berjalanlah ia kepada kami. Sungguh tak pernah kami harapkan. Tawa itu, enyahlah. Semua orang takut. Kami pun sedikit takut. Tak lagi seorangpun singgah ke goa kecil ini. Takut dimakan hantu, katanya. Entahlah, hantu apa yang dia katakan. Tak ada hantu disini. Kecuali hanyalah sosok gadis satu lengan menangis menjerit tiap waktu.
Gadis belia ini, ah, tak tega ku katakan. Dia hanya mempunyai satu lengan, hidup bergelimang harta, tapi tak pernah bahagia. Dia dulu memang pengunjung setia tempat ini. kami sangat menyukainya. Apalagi selalu dibawakannya pisang atau kacang untuk kami. Tak dapat kukatakan betapa dulu kami sangat mencintainya. Itu dulu.
Beruntunglah, monyet disini tak sepenakut manusia diluar sana, meskipun kami hanyalah sekawanan monyet ekor panjang. Manusia sudah enggan datang kemari. Wisata sarang hantu.
Manusia-manusia itu, apa yang perlu ditakuti dari seorang gadis peminum racun serangga?. Gadis putus asa menyedihkan. Sungguh membuat geram. Ingin ku seret ia kepada dewata. Tak disyukurinya segala yang ia punya.
 “ sekar ayu, mengapa kau tak pergi saja ke peraduanmu ? lihatlah, apa yang kau perbuat disini ? tak satupun manusia datang kemari,….”
Kami sangat menyukai manusia, karena terbiasa. Karena makanan yang mereka bawa. Karena perlindungan mereka, karena mereka memberi kami ruang di tempat wisata ini. Sungguh karena gadis aneh ini mereka pergi. Saat mereka datang, diteriakinya mereka oleh sekar ayu. Diguncangkannya beringin agar mereka pergi.
“ Memangnya kenapa ? kalian tak suka ? atau barangkali kalian adalah salah satu dari pengkhianat-pengkhianat itu ?” jawabnya memekik.
“ berdosalah engkau sekar ayu, apa motivasimu dibalik ini ? putus asa kah ? sungguh kau amatlah menyedihkan…”
“ tutuplah mulut kalian….!” Dia mulai naik pitam.
Sungguh tak dapat kami terka, seperti ini kisahnya. Amatlah miris, dia gadis baik sebenarnya. Tak seorangpun pernah dicelanya. Bagaimana tidak, 19 tahun ia hidup, tak banyak orang yang dia kenal. Begitu pula, tak banyak tempat ia kunjungi. Mungkin, disinilah satu-satunya tempat ia sering datang. Terlelap dalam mimpi, bangun dan kemudian bermimpi lagi.
Dia datang membawa dendam. Bapaknya. Kepala desa di sini. Memutuskan untuk memotong satu lengan anaknya. Tumbal. Begitu orang-orang disini menyebutnya. Ya, sasmito meminta nyai ringin penunggu pohon besar di ujung desa sana untuk menjadikan ia seorang yang kaya raya. Dikorbankannya satu lengan putrinya yang baru berusia dua.
 “Berbanggalah, sasmito memberikan tempat kalian hidup… hanya karena untuk pengharhargaan itu, benar kan…?” celetuknya.
    “Dilupakannya aku, dibuangnya aku, terkutuklah sasmito….!” Tambahnya.
Sungguh malang gadis ini, mati dengan penuh dendam. Tak tenang ia di alam sana sebelum bisa ditikamnya muka bapaknya itu. sungguh menyedihkan. Dendam yang akan sia-sia.
 “ tak tahukah kau sekar ayu, bapakmu selalu mencarimu dalam sembahyang, didendangkannya syair do’a untuk keselamatanmu sekar ayu…!”
  “ bohong, tak tahukah kau betapa kejamnya sasmito kepadaku…? Kalian ini, sama saja. Memuja seorang yang salah” jawabnya geram.
   “ sudahkah kau dengar penyesalannya sekar ayu, tangisnya. Tak sudikah kau maafkan bapak kandungmu sendiri?”
   Lalu diamlah dia, tak satupun kata dia katakan. Pikirnya berhamburan.
  “ tak kasihankah kau kepada kami sekar ayu, semua orang selalu datang kemari setiap waktu, dari mereka kita bahagia. Dari mereka kita dapatkan makan buah-buahan yang tak dapat kami temukan disini” kataku.
    “ tak dapatkah kau mengerti, bukan kau saja makhluk malang di dunia ini. Hidupmu penuh duka. Bahkan kau sia-siakan matimu untuk membenci. Lalu kebanggaan apa yang dapat kau tunjukkan kepada penciptamu sekar ayu…?”
     “ apa maksudmu monyet kotor…."
  “ tidakkah kau lihat kami sekar ayu, diluar sana manusia keji menangkap kami. dijadikannya kami tontonan murahan. Dipakaikannya kami kalung besi yang mencekik. topeng monyet. itu sangatlah buruk sekar ayu…” jelasku.
  “ setidaknya itu lebih baik daripada harus hidup berlengan satu, apapun tak dapat kulakukan. Bahkan aku ingin ada seorang laki-laki yang mencintaiku seperti halnya gadis-gadis lain…”
Sungguh tak ada yang dapat kami lakukan untuk membuatnya kembali kepada sang kuasa. Usianya yang muda, kecerdasannya. Harusnya dia takkan mati sia-sia. Mestinya masih banyak hal yang dapat dia kerjakan. Selain hanya menangis di setiap umurnya. Dan menjerit memilukan di setiap matinya.
  “ datanglah engkau kepada bapakmu sekar ayu, tikamlah dia, robeklah dadanya, dan malanlah jantungnya. Dengan itu kau akan puas. Kau akan mendapatkan kebangganmu sendiri. Dengan itu lengkaplah sudah. Kau gadis cacat, tak ada yang dapt kau lalukan semasa hidup, dan bahkan matipun tak ada pahala baik yang kau dapat…”
   “ apa kau bilang ? kurang baikkah aku. Dulu aku bisa saja membunuh bapakku karena kekejiannya itu. tapi tak pernah kulakukan. Karena aku baik. Dan aku cukup baik…! Bantahnya.
      “ benar, kau cukup baik sekar ayu. Tapi kau membiarkan hatimu busuk dalam gelap….”
Gadis itu kembali terdiam, sesekali menjerit. Diguncangkannya pohon beringin. Di cecapnya mata air goa, lalu dimuntahkannya. Menjijikkan. Direbahkan tubuhnya. Selalu saja seperti itu.
Tak lama kemudian pergilah ia. Sekar ayu menyusuri jalan. Menebar tawa aneh menjijikkan. Didatanginya rumah bapaknya. Istana, begitu orang kampung menyebutnya. Tempat ia pernah bernaung. Dilihatnya dari kejauhan. Memang indah. Sedikit sesal dalam benaknya namun tak dia hiraukan.
Di sudut ruangan, ditemukannya sasmito. Lelaki tua itu. Pucat, kurus aking. Amatlah menyedihkan. Meringkuk di sudut ruangan. Memeluk sesuatu.
Dengan sigap ditikamnya dia oleh sekar ayu. Dijambaklah rambutnya. Cakarnya menembus dada sasmito. Tak dapat berkutik lelali tua itu. benarlah. Ini hanyalah jasad. Dia telah mati. Bau busuk menyeruak. Anyir. Ah sial, pikirnya. Dipandanginya lekat-lekat lelaki yang pernah jadi bapaknya itu. Dia memang sudah mati. Entah beberapa hari yang lalu. Tak ada yang tahu.
“Sekar ayu memungut benda dalam pelukannya itu. ini, ini potretku. Untuk apa disimpannya, dipeluk pula. Sungguh kontra dengan apa yang pernah ia lakukan kepada putri perempuannya dulu” Gumamnya dalam hati
“ sekar ayu, kau datang nak. Bapak sungguh sangat merindukanmu…! Suara mengejutkan datang dari belakangnya.
Sekar ayu berbalik. Dilihatnya samar samar wajah bapaknya. Sasmito sialan, pikirnya. Wajahnya masih sama. Hanya saja. Lengannya hanya satu. Dimana?.
“ bapak minta maaf nak, bapak berdosa..” katanya sambil menangis.
“ percuma sasmito, takkan kulepaskan satu maafpun untukmu. Kau lelaki keji, kau ayah biadab. Kau korbankan lengan kanan anakmu hanya demi harta…!!”
“ sungguh aku sangat menyesal sekar ayu, tak seharusnya ku korbankan kau demi harta itu. demi hidup kita. Percayalah, kulakukan semua itu karna bapak sangat menyayangimu nak…” air matanya kembali menetes.
“ kau pembohong sasmito, sungguh aku sangat membencimu, sangat, bahkan jika kau jadi aku sekalipun…!!!” Teriak sekar ayu.
 “ tak  apa jika kau membenciku nak. Tapi berbahagialah. Tak lama lagi kau akan hidup kembali. Lenganmu. Akan segera kembali, kau akan hidup dengan dua lengan”
“ apa maksudmu sasmito …? Sekar ayu ingin tau.
“ telah kubuat perjanjian dengan sang dewata. Kutukar nyawaku dengan kehidupanmu. Kuganti lenganku dengan lenganmu. Agar kau bahagia. Agar kau dapat berkarya anakku”
Terdiamlah sekar ayu, Sangat lama ia terdiam. betapa sesal dalam hatinya. Emosinya meredam. Diratapinya perbuatannya. Dendamya. Tak pantas ia berikan untuk seseorang yang amat mencintainya. Hatinya luluh. Jiwanya menangis. Sukmanya teriris. Sungguh, merasa bodoh. Tak ingin ia bayarkan dendamnya.
“ aku memaafkanmu bapak, aku pergi. Aku akan pergi. Aku akan menghadap penciptaku. Aksn kusampaikan padanya sesalku….”
Dipeluknya roh sang bapak. Dia menangis. Mereka menangis. Seketika itu cahaya datang. Cahaya putih menyilaukan.
“ pergilah kau menjadi gadis yang baik sekar ayu, jadilah kau bunga. jadilah kau lentera bangsa. Jalanilah hidupmu dengan segala kesempurnaanmu…”
Seketika itu lelaki itu pergi, pelan dan akhirnya menghilang.
“ oh dewata, jengan bawa pergi ayahku” teriak sekar ayu.
Sesuatu yang aneh datang, ada yang aneh  dalam sekar ayu. Ada sesuatu yang gatal dilengan kanannya. Sakit. Ngilu. Lengannya tumbuh. Tubuhnya berguncang hebat. Bergetar. Angin datang.
“ Bencana apakah ini, sakiiiiiit……” sekar ayu berteriak.
Lama sekali, dirasakan tubuhnya mulai mati. Tak dapat ia gerakkan. Betapapun ia berusaha. Tapi tak dapat dilakukannya. Hanya diam. Dan diam.
“ ayu….. ayu…..” seseorang bernada lirih memanggilnya.
“ kau sudah siuman nak, ibu sangat mengkhawatirkanmu” orang itu kembali berkata.
Dibuka matanya pelan-pelan. Dilihatnya  sekelilingnya. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Ah, banyak sekali orang disini. Benar saja. Ini rumah sakit.
“aku dirawat disini. Aku kecelakaan. Aku tak benar-benar mati. Aku bukan hantu” pikirnya.
Benar saja seminggu yang lalu ayu mengalami kecelakaan hebat. Tubuhnya terhembas saat truck besar bermuatan menabraknya. Da lengannya. Dia masih punya dua lengan. Dia tak benar-benar cacat.
Dia tampak kebingungan. Satu hal yang mungkin. “ ini kehidupanku berikutnya” ucapnya lirih.


-PM-

September, 2013

No comments